WELCOME TO RANAH PRODUCTION

Kami akan mengkreasikan berbagai event yang anda inginkan sekeren mungkin.
> Party Event
> Gathering Event
> Wedding Event
> Music event
> ETC

Kamis, 14 Januari 2010

MEMBANGKITKAN SPIRIT DALAM BEKERJA




Bekerja, mencapai prestasi tinggi dan diakui. Apa lagi yang bisa dilakukan ? Masih perlukah melakukan pengembangan diri? Jawabannya tentu saja, iya. Perjalanan karir tak ubahnya perjalanan hidup. Bekerja pada akhirnya, disadari atau tidak menjadi bagian yang penting dalam hidup. Meraih posisi puncak memanglah sulit. Namun mempertahankannya juga bukan urusan yang mudah. Dalam jalur mempertahankan hasil kerja, tentunya efektivitas kerja menjadi satu acuan dalam pelaksanaannya. Lalu bagaimanakah cara membangun kebiasaan efektif dalam kerja?

Kenali kemampuan dasar dan pembentukan kebiasaan efektif
Setiap orang pastinya telah memiliki sepaket kemampuan sebagai hasil dari mengolah pengalaman yang diterimanya dalam hidup. Namun, sebenarnya dalam diri kita terdapat kemampuan dasar yang mau tidak mau memang sudah ada pada diri kita, yaitu : kesadaran diri, imajinasi, kemauan, mentalitas berlimpah, keberanian yang disertai kesadaran, kreativitas, dan sifat pembaharu.
Tujuh kemampuan dasar tersebut akan sangat menguntungkan jika dapat dipergunakan sebaik-baiknya dengan menggunakan tujuh kebiasaan efektif, yaitu : bersikap proaktif, memulai dengan gagasan akhir dalam pikiran, mengutamakan yang pertama, berpikir menang-menang, berusaha untuk memahami terlebih dahulu, baru dipahami, membangun sinergi, mengasah gergaji.

Mengenali dan menerapkan kebiasaan efektif untuk mengoptimalkan kemampuan dasar
· Sikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Sikap proaktif berawal dari kesadaran diri akan kelemahan dan keunggulan diri pribadi sehingga mampu memilih respon yang tepat, yang juga didasarkan pada tujuan yang ingin diperoleh dalam kehidupan dan nilai-nilai hidup yang dijadikan pegangan ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Sikap tersebut diperlukan untuk menentukan keputusan atas segala permasalahan atau persoalan yang dihadapi, karena besar atau kecil persoalan yang ada tidak akan dapat diselesaikan jika tidak ditangani oleh pribadi yang dapat mengambil keputusan.
· Ketika mengawali suatu langkah, bayangkanlah (imajinasikanlah) seperti apa tujuan akhir yang akan dicapai. Memulai dengan gagasan akhir dalam pikiran dimaksudkan untuk menyusun strategi bagaimana caranya untuk dapat sampai di ujung jalan yang akan kita tuju. Bagaimana mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan, tidak hanya bayangan. Dengan melatih diri untuk berimajinasi seperti itu, maka diri kita akan lebih realistis dan lebih mudah untuk memecahkan persoalan yang ada di depan mata.
· Kebiasaan efektif yang berikutnya adalah mengutamakan yang pertama. Membangun kebiasaan itu akan menimbulkan sikap untuk selalu hidup dalam keteraturan, disiplin, penuh tanggung jawab dalam menentukan prioritas dan kepentingan dalam hidup. Mereka yang tidak terbiasa mengutamakan yang utama, biasanya akan lebih aman untuk mengambil jalan pintas, bahkan menolak tanggung jawab sehingga yang terjadi adalah ketidakteraturan.
· Berpikir menang-menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Kondisi tersebut akan tercapai, jika pihak yang berhubungan tidak berpikir egois. Berpikir menang- menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan, yang artinya juga berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.
· Keberanian untuk memahami terlebih dahulu merupakan kebiasaan empati, bukan simpati. Sikap memahami terlebih dahulu membutuhkan keberanian dengan pertimbangan lebih. Secara umum memang kebanyakan orang ingin dipahami lebih dulu dan inilah yang menjadi penyebab begitu banyaknya persoalan dalam hidup kita. Jika kita memulai dengan mendengarkan dengan seksama utuk memahami orang lain -ketimbang untuk menanggapinya- kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Saat orang lain merasa dipahami, mereka merasa dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah.
· Membangun sinergi merupakan perwujudan dari kesadaran diri untuk bekerja sama yang didasari oleh watak pemurah. Sinergi adalah buah dari sikap saling menghargai, sikap memahami dan bahkan memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah serta memanfaatkan peluang. Kerja sama ini akan memberikan hasil kerja yang jauh lebih besar dari pada jumlah hasil kerja yang dilakukan secara sendiri-sendiri. Dan sinergi baru bisa diperoleh apabila masing-masing pihak mampu melihat perbedaan sebagai sumber berkah, yang dapat saling membantu mengurangi kelemahan pihak terkait.
· Penyebab munculnya kegagalan dalam menyelesaikan masalah yang disebabkan perubahan keadaan. Apa yang harus dikembangkan? Agar supaya kehidupan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat maka kehidupan harus diperbaharui, inilah yang disebut dengan mengasah gergaji. Yaitu memperbaharui : 1). kemampuan otak berupa wawasan atau pengetahuan, 2). kemampuan sosial dalam berhubungan dengan orang lain, 3). keimanan Kepada Tuhan, dan 4). kesehatan dan kesegaran jasmani. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya.
Kebiasaan efektif dalam bekerja
Kebiasaan efektif tidak hanya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam dunia kerja. Ketika berhubungan dengan orang lain di tempat kerja, sesama rekan kerja ataupun atasan bawahan, selalu dihadapkan pada kondisi dan keadaan memutuskan sesuatu. Coba saja dibayangkan jika saat harus berhubungan dengan orang lain. Jika Anda bersikap reaktif bukannya proaktif, dalam artian tidak memiliki kemampuan memilih atau selalu dibentuk pihak luar, bukankah nantinya Anda akan bingung sendiri, karena besar kecilnya persoalan akan terlihat sama dan tidak ada prioritas jalan pemecahan yang tepat.
Membayangkan seperti apa nantinya hasil pekerjaan Anda bukan berarti Anda di”haruskan” melamun dengan imajinasi-imajinasi liar tak terarah. Saat Anda membayangkan akan naik jabatan akhir tahun, misalnya, maka Anda membuat rencana riil yang tentunya realistis agar tahun ini posisi Anda tidak lagi sebagai manajer tetapi top manajer. Caranya? Dengan mengatur strategi yang pas untuk mencapainya, -misalnya- merampungkan beberapa proyek yang sempat tertunda sesuai tenggat waktu yang diberikan, meningkatkan mutu dan jumlah penjualan perusahaan, dan lain-lain.
Tidak jarang Anda dihadapkan pada pembuatan keputusan yang seharusnya dapat menguntungkan semua pihak. Untuk itulah pembiasaan diri untuk berpikir menang-menang diperlukan. Pola pikir win-win solution dihasilkan oleh mental pribadi yang cerdas karena mereka mendapatkan rasa percaya diri, rasa aman, dari dalam diri mereka sendiri.
Sebelum meminta orang untuk memahami diri Anda, biasakan dengan memahami orang lain. Jka sebagai atasan, pahami karakter dan keinginan bawahan sehingga Anda tahu apa yang menjadi penyebab terjadinya konflik antar bawahan di perusahaan Anda, misalnya. Atau memahami karakter rekan kerja terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan sesuatu jika sedang terlibat konflik dengan rekan kerja Anda.
Perbedaan bukanlah penghalang untuk dapat berkerja sama. Karakter dari sinergisitas adalah terwujudnya saluran komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat untuk menemukan kompromi dan kerja sama. Dengan adanya sinergisitas dari berbagai keahlian dan karakter individu yang berbeda dalam suatu perusahaan maka tujuan dan visi serta misi perusahaan akan lebih mudah tercapai. Karena semua pihak yang terlibat telah dapat melihat bahwa perbedaan merupakan sumber berkah, yang saling membantu mengurangi kelemahan pihak terkait.
Kemampuan diri tidak akan ada gunanya jika hanya didiamkan begitu saja. Rajin-rajin untuk mengembangkan diri seperti layaknya mengasah gergaji merupakan upaya pembaruan diri. Pembaruan ini dapat berupa inovasi, motivasi, ataupun pembelajaran. Bukankah kehidupan itu melangkah ke depan sehingga diperlukan inovasi dan kreativitas baru yang dapat menghindarkan diri kita dari istilah ketinggalan jaman?

Tips membangun kebiasaan efektif dalam bekerja
· Kenali diri sendiri, menjadi langkah awal untuk bisa memahami kondisi luar atau orang lain.
· Melatih imajinasi agar lebih terarah sehingga harapan, visi, dan misinya tidak mudah tergoda pihak luar.
· Ikuti aturan yang ada, secara tertulis maupun tidak tertulis aturan tetaplah aturan. Suka tidak suka itulah yang menjadi aturan di perusahaan tempat Anda bekerja. Jika memang Anda merasa ada hal-hal yang harus diperbarui dalam aturan tersebut, sampaikan dengan cerdas. Berikan alasan-alasan yang tepat atas pembaruan yang Anda ajukan. Jika tidak berhasil berarti Anda yang harus menyesuiakan diri dengan aturan yang ada.
· Terus belajar, untuk meningkatkan kemampuan diri. Teruslah membuka diri untuk menerima informasi atau pengetahuan baru, gunakan sarana yang ada untuk belajar dan meningkatkan kemampuan Anda.
· Menghargai perbedaan sebagai sumber untuk melakukan kerja sama demi kemajuan perusahaan.
· Rendah hati bukannya rendah diri, membiasakan untuk berempati pada orang lain, menerima kelebihan orang lain.

Tetaplah semangat dan tak lelah untuk belajar. Semoga sukses senantiasa mengiringi Anda!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini